Karena hidup itu seperti jendela. Yang memiliki cerita berbeda, di setiap sisinya.

Selasa, 31 Desember 2013

Mencari Serpihan Hati


Malaikat itu berjalan sendirian.
Menapaki setiap tangga rapuh yang ada di hadapannya.
Terus berjalan....
Di bawah payungan hujan,
Di antara muntahan sinar mentari,
Di balik cahaya bulan,
Di setiap sekat rindu ini.

Malaikat itu menyendiri dalam keramaian
Berjalan menunduk dan berharap menemukannya
Ia mencari sesuatu

Yang kulihat, malaikat itu tidak pernah berhenti berjalan
Dalam ruang waktu, aku berpikir, mungkin ia mencari sayapnya yang patah
Memang, dia sudah tidak memiliki sayap

Tapi, dia malaikat
Aku mempercayainya
Wajahnya bersinar ketika memantulkan cahaya matahari
Kulitnya begitu putih
Rambutnya berkilau
Dan matanya berkilat keteduhan


Ini sudah kesekian kalinya aku melihatnya berjalan menunduk
Dengan sejumput keberanian, aku mendekatinya
Kupanggil malaikat itu
“Mencari sayapmu?”
Dia tersenyum kecil dan menatapku dengan tatapannya yang sejuk

Dia menunjuk punggunya yang kosong
Dengan lirih, ia berkata, “Setiap manusia memiliki satu sayap. Dan akan memiliki sayap yang lengkap jika mereka menemukan pasangannya.”
Aku terpekur dan bungkam tanpa suara
Dia bukan malaikat? Tapi, bagiku dia malaikat
Dengan lembut, ia membelai puncak kepalaku,
“Aku mencari serpihan hatiku yang tertinggal disini. Kamu benar, sayapku juga hilang. Bersamaan dengan separuh batinku yang telah meninggalkanku. Disini, aku mencari serpihan hatiku yang mungkin masih tertimbun rapi. Kemudian, aku akan pergi. Membawa serpihan itu dan kuharap, kamu menemukan sebelah sayapmu.”

Aku mendekapnya,
Bagiku, malaikat tidak harus memiliki sayap,
Kamu tahu siapa malaikat yang ada dalam dekapanku?
Dia, bundaku,
Malaikat yang terlihat,
Dan tidak perlu menemukan sayapnya,
Aku tidak membutuhkan sayapnya,
Aku membutuhkan cercah kasih sayangnya,

Tapi, dia berpesan kepadaku,
“Dengan serpihan hati, aku akan melewatkan hal yang mungkin tidak berarti. Tetapi, aku kini menyadari. Aku tak perlu pergi menjauh demi hati yang tinggal separuh. Karena, aku masih memilikimu, anakku.”
Kamu pasti tahu apa yang ada dalam benakku,
Karena, aku tentu membutuhkan malaikat ini, bundaku.

0 komentar:

Posting Komentar

Ikuti Jendela dengan Surel

Copyright © Jendela yang Bercerita Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com