Karena hidup itu seperti jendela. Yang memiliki cerita berbeda, di setiap sisinya.

Jumat, 06 Februari 2015

Ruang Itu Menyala Api


Kegelapan. Kegelapan.

Aku memaksa kelopak mataku terbuka dan tetap terjaga. Meskipun aku begitu membenci kegelapan dengan segenap kekuatanku. Tempat ini terlalu gelap. Pun dengan oksigen yang serasa habis karena aku merasa sangat sesak.

Kegelapan yang pekat dan hitam sempurna.

Ketika aku baru saja berpikir untuk mengambil langkah, entah kemanapun itu, aku mendengar dentum langkah kaki dengan lantai mendekat. Karena tidak ada cahaya barang sedikit, aku hanya memperkirakan dari mana suara itu berasal dan menolehkan kepala. Suara itu semakin dekat. Aku bisa mendengarnya bertalu di telinga kiriku. Langkah kakinya terdengar mantap dan tegas. Aku menjaga mataku agar tetap waspada. Siapa pun itu, dia patut dicurigai.

Tunggu. Langkah kaki itu berhenti.

“Halo, nona. Selamat datang.” Tepat ketika suara itu datang ke telingaku, cahaya seolah datang dari mana saja. Ruang. Ruang itu menyala.

Terlalu terang.

“Baiklah, akan kuulangi.” Suara berat itu terdengar lagi. “Selamat datang.”

Aku tergugu melihat anak perempuan yang berdiri menatapku dengan tajam. Dia manis. Sungguh. Irisnya sewarna merah yang nyala. Begitu pas dengan rambut panjangnya yang sewarna merah darah.

Dia..., terlalu menakjubkan.

Mendapatiku yang hanya menatapnya penuh dengan bibir terkatup, dia menyeringai. Aku nyaris tersedak dengan ludahku sendiri begitu melihat seringai itu. Seringai licik yang dibalur dengan decihan remeh.

Apa-apaan dengan aura ini. Auranya menyeramkan!

“Ah, kau memang menjengkelkan,” katanya. Suaranya yang berat terdengar tajam dan dingin. Itu bisa membekukanku. “Jadi, kenapa kau ke sini?”

Aku juga tidak mengerti. Aku menilik ruang itu. Aku tidak mengenali ruang itu. Tidak sama sekali. Aku juga tidak ingat kenapa aku bisa ada di sini. Yang jelas, kegelapan yang aku lihat saat aku sadar aku masih ada di kamar, menyeretku begitu saja.

“Kau datang pada saat yang tepat, sebenarnya,” ujar anak perempuan itu membuatku mematutnya lagi. Dia menyeringai dengan rupa khas yang sama.

Aku bergidik. Masih tidak menyangka anak perempuan menakjubkan itu memiliki seringai dengan rupa khas yang terlukis licik dan mengerikan. Oh ayolah, aku tidak suka berada di sini.

Tapi anak perempuan itu sepertinya tidak berpikiran sama denganku. Tiba-tiba saja dia sudah ada di hadapanku, menatapku dengan iris merahnya yang menyala. Dia menatapku lamat. “Aku tidak suka kedatangan tamu,” katanya. “Tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya sembari mengangkat bahu singkat. Sekali lagi, dia menyeringai, menatapku dalam. “Karena kau sudah datang, akan sangat tidak sopan jika tidak memberi ‘selamat datang’ yang lebih istimewa, kan?”

Anak perempuan itu beranjak dengan gerakan cepat. Aku meneguk ludah. Apapun ide itu, aku yakin itu bukan ide bagus.

“Aku—“

“Jadi, selamat datang?” sergah anak perempuan merah itu cepat. Tahu-tahu dia sudah berada sangat dekat denganku. Aku membelalak, merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit leherku. Dia menyeringai lagi. Kali ini membuatku muak, sekaligus takut.

“Kau memang datang pada saat yang tepat, nona.” Anak perempuan itu menatapku tajam. Irisnya yang sewarna merah terlihat menyala lebih terang ketika cahaya lampu menimpanya. Dia menyala. Sosoknya membara. Dia mengikis jarak dengan anggun.“Selamat datang!”

Tepat ketika suaranya yang lantang itu terdengar, aku merasakan sakit luar biasa di daerah leherku. Rasanya seperti ada benda yang menyumbat tenggorokanku.

“Ah, pisaunya menancap sempurna,” tukas anak perempuan itu. Dia tersenyum lebar, seakan memang itu yang seharusnya terjadi. “Biar aku ambil, ya?”

Mataku membeliak lebar. Anak perempuan itu mengambil benda yang menyumbat tenggorokanku dengan sekali gerakan. Rasanya lebih dari sakit. Mulutku terasa penuh. Ketika aku terbatuk, aku memuntahkan sesuatu yang kental. Bau amis ada di mana-mana.

Sial! Rasanya sakit dan aku tidak bisa berhenti terbatuk!

“Hee, kenapa kau belum mati?” Aku mendapati anak perempuan merah itu berdiri tegap dengan pisau dan bagian depan tubuhnya dilumuri darah. Dia mengambil langkah mendekatiku. “Sekali lagi, bagaimana?” dia memainkan pisaunya dengan riang. Matanya menatapku dengan sorot tertarik.

Jangan! Jangan lagi, sungguh.

Tapi dia melakukannya lagi. Dengan gerakan yang tidak bisa kuikuti, dia memainkan pisaunya lagi. Kali ini, aku merasakan sakit di atas perutku. Sakit. Aku langsung terbatuk dengan air mata yang keluar deras dari mataku.

Anak perempuan itu menatapku puas. Dia tertawa ringan sembari menarik kembali pisaunya. Tidak memperdulikan aku yang tersungkur, tenggelam dalam kubangan sewarna merah kental yang berbau amis dan anyir yang pekat.

“Nah, sudah selesai.” Dia menatapku sekali, lalu mulai berjalan pergi.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga hampir tidak lagi bisa merasakan tubuhku. Tubuhku terasa ringan dan semakin ringan seiring dengan kelopak mataku yang memberat. Pun dengan sakit luar biasa yang mencekik tubuhku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kan?

Sebelum aku benar-benar tumbang, aku melihatnya. Anak perempuan itu berjalan menuju lorong. Rambut merah darahnya berayun, menyalakan kobaran api pada bingkai sosoknya. Dia memang menakjubkan. Tubuhnya membara api.

Aku merasakan dentuman hebat di kepalaku. Pandanganku mulai kabur. Ruang itu perlahan lapuk. Termakan dengan kobaran merah api yang membara. Semuanya akan pupus, sebentar lagi.

Tapi, sebelum semuanya benar-benar hancur, aku melihatnya lagi. Anak perempuan yang sosoknya membara api. Dia berjalan cepat. Membuat semuanya sewarna merah api berkobar dengan penuh.

Semuanya terbakar dalam warna merah yang membara.[]

Ikuti Jendela dengan Surel

Copyright © Jendela yang Bercerita Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com