Karena hidup itu seperti jendela. Yang memiliki cerita berbeda, di setiap sisinya.

Selasa, 03 Maret 2015

Tentang Dia; Apa Kabar?


Ambil di favim, lupa link utuhnya:v

Sudah nyaris dua minggu, mungkin? Rasanya lama sekali, kita tidak saling bertukar sapa. Terakhir kali kau mengunjungiku, aku dalam keadaan lelah, seperti biasanya. Kau datang, menyapa. Tapi seperti biasa, alih-alih menghiburku, kau malah tertawa, seakan aku hanya bisa terdiam, tidak bisa melakukan apa-apa.

Rasanya, beban menumpuk itu memang mengganggu. Tapi lagi-lagi, kedatanganmu menghapusnya. Seperti candu. Kau itu memang aneh, sekaligus menakjubkan. Aku tidak pernah bisa berhenti berdecak kagum, membiarkanmu berdecih aneh.

Biarkan saja, lagi pula, kenapa kau selalu terlihat menawan?

Saat itu, dalam keadaan lelah fisik, aku berseru marah. Kenapa kau selalu datang saat aku tidak fit? Kenapa tidak saat aku masih sanggup mengejarmu, mengikuti langkah kakimu?

Kau sendiri masih sama seperti saat yang lalu. Diam dan tidak merespon. Pura-pura tidak mendengar suaraku dan malah asik sendiri.

Mungkin saja, kau tidak ingin kuikuti. Tidak ingin membagi langkah denganku. Yah, aku sendiri juga tidak suka diikuti. Apalagi, kalau itu stalker. Kau memang tidak suka dengan stalker, kan?

Aku mengerti. Aku tahu.

Kau selalu saja begitu. Membuatku bosan dan kesal. Kau selalu bilang, bahwa kau tahu. Cih, seperti tahu segalanya saja! Tapi faktanya, kau memang tahu segalanya. Terlebih bila itu yang bersangkutan denganku.

Kuakui itu memang memudahkan. Tapi, tak pelak juga membuatku benar-benar kesal.

Dan reaksimu selalu sama, tawa lebar dengan suara keras.

Banyak yang bilang, kau hitam. Lebih hitam dari warna hitam yang pernah dijumpai. Kau terlalu pekat dan gelap. Hitam sempurna.

Tapi, bagimu, itu bukan masalah. Katamu, itu sama sekali tidak menyinggungmu. Lagi pula, kau selalu suka warna gelap. Bukan masalah.

Kau tahu, akhir-akhir ini aku merasa cemas. Takut dan bingung. Aku butuh bantuanmu, ingin berbicara banyak, seperti yang dulu kita lakukan. Aku ingin bertukar solusi, mencari yang terbaik.

Tapi..., kenapa kau tidak datang?

Bahkan, selama dua minggu penuh, aku selalu mencarimu. Menanyakan, mungkin saja ada yang melihat ke arah mana kau mengambil langkah pergi. Tapi, kau urung juga kutemukan.

Aku memang sedang ketakutan. Tanpamu, aku tidak bisa menjelaskannya. Denganmu, aku juga tidak tahu rasanya seperti apa. Intinya, ada atau tidaknya kamu, aku tidak tahu mana yang terbaik.

Yang kupikirkan, hanyalah, aku sedang membutuhkanmu.

Lama tidak jumpa rasanya aneh. Berjumpa juga rasanya aneh.

Yang jelas, sekarang kau ada di mana?

Kuharap, kau tidak sedang bermalas-malasan.

Kabarku baik saja, kalau kau ingin tahu. Yah, walau aku yakin kau sudah tahu kabarku dan malah berdecih, bilang bahwa aku tidak sedang baik saja. Terserahlah.

Jadi..., bagaimana kabarmu?

0 komentar:

Posting Komentar

Ikuti Jendela dengan Surel

Copyright © Jendela yang Bercerita Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com