Karena hidup itu seperti jendela. Yang memiliki cerita berbeda, di setiap sisinya.

Rabu, 14 Desember 2016

Ia yang Menjelma Cinta

Dulu, ketika tugas yang menumpuk lebih mengerikan ketimbang film horror kesukaan, kamu pernah memberikan penawaran menarik kepada saya, “Bergabunglah bersamaku. Maka lara hanyalah cerita usang yang mana tidak bisa kautemukan.”

Tawaran itu terlalu menggiurkan, kalau boleh saya bilang begitu. Dan saya hanyalah bocah bodoh yang tidak tahu-menahu tentang ilmu pengetahuan, jadi jawaban saya sederhana, “Luka saya tidak akan cukup untuk ditukar dengan cinta—terlalu banyak, maksud saya. Kalau cinta yang saya dapat hanya sejengkal, buat apa saya ikut bersama kamu?”

Kamu tertawa—terlalu kerasa sampai menabrak atap rumah saya yang bocor ketika diguyur air hujan. Saya maklum. Toh jawaban seperti apa yang bisa saya berikan, memangnya? Saya memang bocah bodoh, tapi saya cukup tahu bahwa ada sakit yang tidak berkesudahan ketika ditinggal pergi—yang entah oleh anggota keluarga atau karakter kesayangan dalam cerita. Dan saya cukup tahu, menukar lara dengan cinta sudah tentu tidak sebegitu mudahnya.

Kamu tidak pernah pergi. Kadang saya mendapati kamu duduk santai di lampu gantung tunggal ruang tengah; bersandar malas di bingkai jendela ruang tamu; atau suatu ketika, kamu berbaring malas di tumpukan buku-buku. Kamu terlalu mudah ditemukan, tidak pernah berniat menyembunyikan diri sejak pertama kali menginjakkan kaki di pekarangan depan.

Tawamu akan meledak dengan keras, ketika yang bisa saya lakukan hanyalah menangis dengan nada yang tidak selaras. Tawamu akan berderaian panjang sekali, ketika saya hanya bisa memaki atas kejadian-kejadian yang saya sesali. Tawamu akan mengisi seluruh kamar, ketika saya membuat kulit saya bercorak memar. Dan tawamu yang memecah hening, tidak sekalipun terasa asing.

“Aku tidak peduli pada apa yang hilang dari dirimu. Aku sudah cukup senang melihat perjuanganmu—sambil menunggu kapan namaku terucap oleh bibirmu.”

Saya tidak kehilangan apa pun. Atau lebih tepatnya, saya tidak kehilangan siapa pun. Keluarga saya ada di sekeliling saya, bekerja, dan sebagainya. Saya memilih untuk tidak menjawab dan membiarkan dirimu mengawasi dari sudut kamar saya. Kamu selalu tahu tentang saya, memberitahukan satu-dua hal tidak akan berdampak banyak.

Orang-orang bilang kamu itu mengerikan, tapi saya lebih suka menyebutmu mematikan. Karena eksistensimu akan menyala lebih terang, ketika kepercayaan dan alasan saya hilang. Dan kamu akan berubah berkali-kali lipat menjadi lebih menarik, ketika luka-luka saya terlalu mencekik.
Kamu berbahaya. Begitulah sebagian lain dirimu di mata saya. Maka ketika kamu sedang asyik mengaduk-aduk perasaan saya, jawaban atas pertanyaanmu waktu lalu saya berikan dengan hampa, “Saya kehilangan diri saya sendiri.”

Sepasang matamu berubah cerah—seakan menyerap sinar matahari senja yang menerobos masuk lewat jendela—dan senyummu yang panjang langsung merekah, “Tawaranku masih berlaku.”

Kehilangan diri sendiri itu mengerikan. Rasanya dahsyat, lebih hebat dari luka di kulit yang tersayat. Dan saya cuma bocah bodoh, yang berkali-kali termakan tawaranmu yang terlalu menggiurkan. Saya cuma bocah bodoh; meski air mata berkali-kali tumpah; meski cerita sehari-hari selalu membuat jengah; dan meski hati berkali-kali patah, selalu ada bayang-bayang keluarga yang tertancap dengan kokoh. “Tidak untuk kali ini,” begitu saya menjawab waktu itu.

Kamu tersenyum dan tertawa seperti biasa sambil mengangkat bahu dengan ringan. Saya memang tidak memiliki alasan yang kuat, saya pun cukup tahu kamu tidak berharap banyak pada saya. Maka ketika kamu tidak pergi dan tetap mengawasi saya, tidak sekalipun saya merasa keberatan.

Karena kamu adalah lara itu sendiri. Luka-luka saya yang bisa ditemukan di mana saja. Kamu tidak pernah jauh, jarak saya dan kamu hanya sejauh kelingking sampai ibu jari. Karena itulah saya tidak menolak ketika kamu berkali-kali mencubit dan melemparkan tawaran-tawaran lain yang sama menggiurkannya.  

Berdiri dan melangkah dengan kokoh tidak pernah semudah itu. Dan untuk kesekian kalinya, saya cukup senang ketika kamu selalu berjalan di samping saya. Karena kamu adalah lara yang terlalu mematikan; berhasil memikat saya entah untuk seberapa banyak dan berhasil membuat saya mencegahmu agar tidak beranjak. 
Sumber: Jia Effendie

 “Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie." 

0 komentar:

Posting Komentar

Ikuti Jendela dengan Surel

Copyright © Jendela yang Bercerita Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com